Pengaruh Pengaruh Terhadap Prilaku Konsumen
A. Pengaruh Kebudayaan Terhadap Pembelian Dan Konsumen
Kebudayaan adalah faktor penentu keinginan dan perilaku seseorang,
terutama dalam perilaku pengambilan keputusan dan perilaku pembelian.
Dalam perkembangan sejarah budaya konsumsi maka masyarakat konsumsi
lahir pertama kali di Inggris pada abad 18 saat terjadinya tehnologi
produksi secara massal. Tehnologi yang disebabkan oleh berkembangnya
revolusi industri memungkinkan perusahaan-perusahaan memproduksi barang
terstandarisasi dalam jumlah besar dengan harga yang relatif murah.
Pada saat yang bersamaan muncul revolusi kebudayaan, di mana masyarakat
secara bertahap berubah dari masyarakat agraris menjadi masyarakat yang
kekotaan, karena dengan berpindahnya ke perkotaan maka budaya mereka
berubah sehingga berkembanglah tata nilai baru dan pola kehidupan yang
baru akibat pekerjaan yang berbeda. Tidak hanya orang yang kaya saja
bahkan orang yang biasa juga merasa perlu membeli produk yang dapat
memuaskan kebutuhan budaya baru, seperti munculnya perbedaan status yang
makin menonjol di kalangan masyarakat perkotaan.
Gambaran lahirnya masyarakat konsumsi tersebut diatas, menunjukkan
pentingnya budaya dalam memahami perilaku konsumen. Aspek-aspek budaya
yang penting dapat diidentifikasi sehingga dapat digunakan sebagai dasar
untuk memahami bagaimana hal tersebut dapat mempengaruhi konsumen dan
tentunya dapat digunakan dalam mengembangkan strategi pemasaran yang
lebih efektif.
B. Pengaruh Kelas Sosial dan Status
PENGERTIAN KELAS SOSIAL
Kelas sosial adalah serangkaian konsep dalam ilmu-ilmu sosial dan teori
politik berpusat pada model stratifikasi sosial di mana seseorang
dikelompokkan ke dalam seperangkat kategori sosial hirarkis.Kelas
adalah obyek penting dari analisis untuk sosiolog, ilmuwan politik,
antropolog dan sejarawan sosial. Namun, tidak ada konsensus mengenai
definisi terbaik dari “kelas” panjang, dan istilah memiliki makna
kontekstual yang berbeda. Dalam bahasa umum, “kelas sosial”, merupakan
istilah yang biasanya identik dengan “kelas sosial-ekonomi,”
didefinisikan sebagai: “orang yang memiliki status sosial, ekonomi,
atau pendidikan yang sama,” misalnya, “kelas pekerja”; “bermunculan
profesional kelas- Kelas sosial terbagi menjadi kelas atas, kelas
menengah dan kelas bawah.
Pada prinsipnya, jika setiap atribut manusia diciptakan dalam suatu
masyarakat dapat dibagi menjadi kelas-kelas sosial yang berbeda maka
kelas sosial tersebut dapat dibagi berdasarkan pekerjaan, pendidikan,
pendapatan, pengaruh politik, asal negara, jenis kelamin. Pengertian
kelas sejalan dengan pengertian lapisan tanpa harus membedakan dasar
pelapisan masyarakat tersebut. Kelas Sosial atau Golongan sosial
mempunyai arti yang relatif lebih banyak dipakai untuk menunjukkan
lapisan sosial yang didasarkan atas kriteria ekonomi. Jadi, definisi
Kelas Sosial atau Golongan Sosial ialah: Sekelompok manusia yang
menempati lapisan sosial berdasarkan kriteria ekonomi.
Klasifikasi Kelas Sosial Pembagian Kelas Sosial terdiri atas 3 bagian yaitu:
1. Berdasarkan Status Ekonomi.
Aristoteles membagi masyarakat secara ekonomi menjadi kelas atau golongan:
1. Golongan sangat kaya
2. Golongan kaya
3. Golongan miskin.
Aristoteles menggambarkan ketiga kelas tersebut seperti piramida:
1. Golongan pertama : merupakan kelompok terkecil dalam masyarakat. Mereka terdiri dari pengusaha, tuan tanah dan bangsawan.
2. Golongan kedua : merupakan golongan yang cukup banyak terdapat di dalam masyarakat. Mereka terdiri dari para pedagang, dsbnya.
3. Golongan ketiga : merupakan golongan terbanyak dalam masyarakat. Mereka kebanyakan rakyat biasa.
2. Karl Marx juga membagi masyarakat menjadi tiga golongan, yakni:
A. Golongan kapitalis atau borjuis : adalah mereka yang menguasai tanah dan alat produksi.
B. Golongan menengah : terdiri dari para pegawai pemerintah.
C. Golongan proletar : adalah mereka yang tidak memiliki tanah dan alat
produksi. Termasuk didalamnya adalah kaum buruh atau pekerja pabrik.
Menurut Karl Marx golongan menengah cenderung dimasukkan ke golongan
kapatalis karena dalam kenyataannya golongan ini adalah pembela setia
kaum kapitalis. Dengan demikian, dalam kenyataannya hanya terdapat dua
golongan masyarakat, yakni golongan kapitalis atau borjuis dan golongan
proletar.
3. Pada masyarakat Amerika Serikat, pelapisan masyarakat dibagi menjadi enam kelas yakni:
> Kelas sosial atas lapisan atas ( Upper-upper class)
> Kelas sosial atas lapisan bawah ( Lower-upper class)
> Kelas sosial menengah lapisan atas ( Upper-middle class)
> Kelas sosial menengah lapisan bawah ( Lower-middle class)
> Kelas sosial bawah lapisan atas ( Upper lower class)
> Kelas sosial lapisan sosial bawah-lapisan bawah ( Lower-lower class)
Kelas sosial pertama : keluarga-keluarga yang telah lama kaya.
Kelas sosial kedua : belum lama menjadi kaya
Kelas sosial ketiga : pengusaha, kaum professional Kelas sosial
keempat : pegawai pemerintah, kaum semi profesional, supervisor, pengrajin terkemuka
Kelas sosial kelima : pekerja tetap (golongan pekerja)
Kelas sosial keenam : para pekerja tidak tetap, pengangguran, buruh musiman, orang bergantung pada tunjangan.
4. Dalam masyarakat Eropa dikenal 4 kelas, yakni:
§ Kelas puncak (top class)
§ Kelas menengah berpendidikan (academic middle class) Kelas menengah ekonomi (economic middle class)
§ Kelas pekerja (workmen dan Formensclass)
§ Kelas bawah (underdog class)
C. Berdasarkan Status Politik Secara politik
kelas sosial didasarkan pada wewenang dan kekuasaan. Seseorang yang
mempunyai wewenang atau kuasa umumnya berada dilapisan tinggi, sedangkan
yang tidak punya wewenang berada dilapisan bawah. Kelompok kelas sosial
atas antara lain: pejabat eksekutif, tingkat pusat maupun desa.
pejabat legislatif, dan pejabat yudikatif. Pembagian kelas-kelas sosial
dapat kita lihat dengan jelas pada hirarki militer.
§ Kelas Sosial Atas (perwira) Dari pangkat Kapten hingga Jendral
§ Kelas sosial menengah (Bintara) Dari pangkat Sersan dua hingga Sersan mayor
§ Kelas sosial bawah (Tamtama) Dari pangkat Prajurit hingga Kopral kepala
PENGERTIAN STATUS SOSIAL
Status sosial adalah sekumpulan hak dan kewajian yang dimiliki seseorang
dalam masyarakatnya (menurut Ralph Linton). Orang yang memiliki status
sosial yang tinggi akan ditempatkan lebih tinggi dalam struktur
masyarakat dibandingkan dengan orang yang status sosialnya rendah.
Status sosial sering pula disebut sebagai kedudukan atau posisi,
peringkat seseorang dalam kelompok masyarakatnya. Pada semua sistem
sosial, tentu terdapat berbagai macam kedudukan atau status, seperti
anak, isteri, suami, ketua RW, ketua RT, Camat, Lurah, Kepala Sekolah,
Guru dsbnya. Dalam teori sosiologi, unsur-unsur dalam sistem pelapisan
masyarakat adalah kedudukan (status) dan peranan ( role). Kedua unsur
ini merupakan unsur baku dalam pelapisan masyarakat. Kedudukan dan
peranan seseorang atau kelompok memiliki arti penting dalam suatu sistem
sosial.
PENGARUH INDIVIDU
Pengaruh Individu dalam Perilaku Konsumen
Dalam perilaku konsumen banyak faktor-faktor yang mempengaruhinya,
salah satunya adalah individu itu sendiri. Setiap individu yang satu
dengan individu yang lain dalam mengkonsumsi suatu barang dan jasa pasti
berbeda. Tetapi ada kalanya seorang individu dalam mengkonsumsi suatu
barang atau jasa dipengaruhi oleh individu lain sehingga individu
tersebut mengikuti individu yang mempengaruhinya. Oleh karena itu,
pengaruh individu sangat menentukan dalam perilaku konsumsi. Konsumen
yang selektif akan aktif melibatkan diri mereka dalam proses pengambilan
keputusan pembelian. Hal ini dapat menghindari resiko yang dapat
ditimbulkan oleh produk. Jika tingkat keterlibatan tinggi secara pribadi
maka konsumen tersebut sebagai pemimpin opini.
Suatu perilaku konsumen pun tak lepas dari pengaruh kelompok dan
personal yang dianutnya. Reference group adalah seseorang atau
sekelompok orang yang empengaruhi perilaku individu secara signifikan.
Reference group dapat berupa artis, atlit, tokoh politik, kelompok
musik, partai politik, dan lain-lain. Reference group mempengaruhi dalam
beberapa cara. Pertama-tama reference group menciptakan sosialisasi
atas individu. Kedua reference group berperan penting dalam membangun
dan mengevaluasi konsep seseorang dan membandingkannya dengan orang
lain. Ketiga, reference group menjadi alat untuk mendapatkan pemenuhan
norma dalam sebuah kelompok social.
Perbedaan dan pengaruh individu merupakan faktor internal yang
menggerakkan dan mempengaruhi perilaku. Setiap individu memiliki
kepribadian berbeda dan tidak ada manusia yang diciptakan sama, sehingga
di dalam perilaku konsumsi individu memiliki pilihan yang berbeda pula.
Ada lima hal yang menyebabkan konsumen berbeda : (1) Sumberdaya
konsumen, (2) Motivasi dan keterlibatan, (3) Pengetahuan, (4) Sikap dan
(5) Kepribadian, gaya hidup dan demografi.
D. Pengaruh Keluarga dan Rumah Tangga
Keluarga dapat pempengaruhi perilaku Konsumen . Keluarga adalah
organisasi pembelian konsumen yang paling penting dalam masyarakat.
Keputusan pembelian keluarga, tergantung pada produk, iklan dan situasi.
Seseorang umumnya berpartisipasi dalam kelompok selama
hidupnya-keluarga, klub, organisasi. Posisi seseorang dalam setiap
kelompok dapat diidentifikasikan dalam peran dan status. Setiap peran
membawa status yang mencerminkan penghargaan yang diberikan oleh
masyarakat. Para anggota keluarga dapat mempengaruhi dengan kuat
terhadap perilaku membeli. Kita dapat membedakan dua maaca keluarga
dalam kehidupan pembeli. Pertama, keluarga sebagai sumber orientasi yang
terdiri dari orangtua. Kedua, keluarga sebagai sumber keturunan, disani
adanya hubungan yang saling mempengaruhi (suami-istri dan anak). Studi
tentang keluarga dan hubungan mereka dengan pembelian dan konsumsi
adalah penting, tetapi kerap diabaikan dalam analisis perilaku konsumen.
Pentingnya keluarga timbul karena dua alasan.
Pertama, banyak produk yang dibeli oleh konsumen
ganda yang bertindak sebagai unit keluarga. Rumah adalah contoh produk
yang dibeli oleh kedua pasangan, barangkali dengan melibatkan anak,
kakek-nenek, atau anggota lain dari keluarga besar. Mobil biasanya
dibeli oleh keluarga, dengan kedua pasangan dan kerap anak remaja
mereka terlibat dalam pelbagai tahap keputusan. Bentuk favorit dari
kegiatan waktu senggang bagi banyak keluarga adalah berkunjung ke pusat
perbelanjaan setempat. Kunjungan tersebut kerap melibatkan banyak
anggota keluarga yang membeli pelbagai barang rumah tangga, busana, dan
barangkali bahan makanan. Perjalanan tersebut mungkin pula melibatkan
semua anggota dalam memutuskan di restoran fast-food mana untuk
membelanjakan pendapatan keluarga yang dapat digunakan.
Kedua, bahkan ketika pembelian dibuat oleh individu, keputusan
pembelian individu bersangkutan mungkin sangat dipengaruhi oleh anggota lain.dalam
keluarganya. Anak-anak mungkin membeli pakaian yang dibiayai dan
disetujui oleh orang tua. Pengaruh seorang remaja mungkin pula besar
sekali pada pembelian pakaian orangtua. Pasangan hidup dan saudara
kandung bersaing satu sama lain dalam keputusan tentang bagaimana
pendapatan keluarga akan dialoksikan untuk keinginan individual mereka.
Orang yang bertanggung jawab untuk pembelian dan persiapan makanan
keluarga mungkin bertindak sebagai individu di pasar swlayan, tetapi
dipengaruhi oleh preferensi dan kekuasaan anggota lain dalam keluarga.
Konsumen tersebut mungkin menyukai makanan dan kegiatan waktu senggang
yang sama, dan mengemudikan merek mobil yang sama dengan anggota yang
lain dalam keluarga. Pengaruh keluarga dalam keputusan konsumen
benar-benar meresap.
Studi tentang keputusan keluarga sebagai konsumen kurang
lazim dibandingkan studi tentang individu sebagai konsumen. Alasan untuk
pengabaian dalam studi pembelian keluarga adalah kesulitan dalam
mempelajari tentang keluarga sebagai organisasi. Survey dan metodologi
penelitian pemasaran lain lebih mudah dijalankan untuk individu daripada
untuk keluarga. Pemberian kuesioner kepada seluruh keluarga membutuhkan
akses ke semua anggota pada waktu yang lebih kurang sama, dengan
menggunakan bahasa yang mempunyai makna sama bagi semua anggota
keluarga, dan menafsirkan hasil ketika anggota dari keluarga yang sama
melaporkan opini yang bertentangan mengenai apa yang dibeli oleh
keluarga atau pengaruh relative dalam keputusan tersebut.
Penentu keputusan pembelian pada sutau keluarga
Keluarga memiliki pendapatan rata-rata yang lebih tinggi dibandingkan
dengan rumah tangga karena jumlah yang lebih banyak dari individu yang
bekerja di dalam keluarga. Untuk keluarga maupun rumah tangga, keempat
variabel structural yang paling memberi dampak pada keputusan pembelian
dan yang demikian paling menarik bagi pemasar adalah usia kepala rumah
tangga atau keluarga, ststus perkawinan, kehadiran anak, dan ststus
pekerjaan.
Keluarga adalah sama dengan perusahaan; keluarga adalah organisasi yang
terbentuk untuk mencapai fungsi tertentu yanmg lebih efektif
dibandingkan individu yang hidup sendiri. Fungsi yang paling jelas bahwa
dua oramg dapat mencapai lebih baik daripada satu orang adalah
mempunyai anak. Walaupun analisis konsumen mungkin tidak mempunyai opini
mengenai apakah keluarga harus mempunyai anak atau tidak. Konsekuensi
ekonomi dengan hadirnya anak menciptakan struktur permintaan akan
pakaian, makana, perbot, rumah, perawatan kesehatan, pendidikan dan produk.lain.
anak di dalam keluarga dapat menyebabkan menurunnya permintaan akan
produk lain, seperti perjalanan, restoran, pakaian orang dewasa, dan
banyak barang yang bebas pilih.
D. Pengaruh Situasi Pada Prilaku Konsumen
Faktor situasional adalah kondisi sesaat yang muncul pada tempat dan
waktu tertentu. Yang mana kemunculanya terpisah dari diri produk maupun
konsumen. Mendifinisikan situasi sebagai semua faktor yang utama
terhadap tempat dan situasi yang tidak menurut pengetahuan seseorang
(intra individu ) dan stimulasi (alternatif pilihan) dan memiliki bukti
dan pengaruh sistimatis pada prilaku saat itu.
Pengaruh situasional adalah kekuatan sesaat yg tidak berasal dari dalam
diri seseorang atau berasal dari produk atau merek yang dipasarkan.
Pengaruh situasional adalah kondisi sesaat yang muncul tiba-tiba yang
mana kemunculannya tidak dari dal diri oang tersebut maupun dari merk
suatu barang, yang mana dalam hal tersebut terdapat stimulus yang sangat
kuat untuk mempengarui orang melakukan kegiatan konsumsi. Pengaruh
situasi sangatlah berbengaruh terhadap perilaku konsumen dalam mengambil
keputusan untuk membeli suatu barang atau produk.
Faktor lingkungan adalah hal yang menyebabkan suatu situasi dimana
perilaku konsumen muncul pada waktu tertentu dan tempat tertentu.
Berikut ada lima karakteristik situasi konsumen yaitu:
1. Lingkungan fisik, Sarana fisik yang menggambarkan situasi konsumen
yang meliputi: lokasi, dekorasi, aroma, cahaya, cuaca dan objek fisik
lainnya yang ada di sekeliling konsumen
2. Lingkungan Sosial, Kehadiran dan ketidakhadiran orang lain pada situasi tersebut
3. Waktu, Waktu atau saat perilaku muncul (jam, hari, musim libur, bulan
puasa, tahun baru). Waktu mungkin diukur secara subjektif berdasarkan
situasi konsumen, misal kapan terakhir kali membeli roti
4. Tujuan, Tujuan yang ingin dicapai pada suatu situasi. Misalkan
konsumen yang belanja untuk acara keluarga di rumah akan menghadapi
situasi berbeda dibandingkan belanja untuk kebutuhan sendiri
5. Suasana Hati, Suasana hati atau kondisi jiwa yang sesaat (misalnya
perasaan khawatir, tergesa-gesa, sedih, marah) yang dibawa pada suatu
situasi.
Jenis-jenis situasi konsumen
Situasi Komunikasi adalah suasana atau lingkungan dimana konsumen
memperoleh informasi atau melakukan komunikasi. Konsumen mungkin
memperoleh informasi melalui :
1. Komunikasi Lisan dengan teman, kerabat, tenaga penjual, atau wiraniaga
2. Komunikasi Tulisan dengan membaca koran, majalah, poster, billboard, brosur, leaflet dsb
3. Informasi diperoleh dari iklan saat sedang menonton televise, saat
sedang mendengarkan radio, langsung dari toko melalui promosi penjualan,
pengumuman di rak dan di depan toko.
Situasi Pembelian adalah lingkungan atau suasana yang dialami/dihadapi
konsumen ketika membeli produk dan jasa. Situasi pembelian akan
mempengaruhi keputusan membeli. Misalnya, ketika konsumen berada di
pegunungan, ia mungkin akan bersedia membayar untuk memperoleh jagung
bakar berapa saja harganya ketika lapar dan ingin makanan yang hangat.
Situasi Pemakaian disebut juga situasi penggunaan produk dan jasa yang
merupakan situasi atau suasana ketika konsumen ingin mengkonsumsi /
mengunakan suatu produk atau jasa. Konsumen sering kali memilih suatu
produk karena pertimbangan dari situasi konsumsi. Misalnya, konsumen
muslim sering menggunakan pakaian muslim pada saat hari raya idul fitri
atau hari besar keagamaan lainnya. Situsi seperti ini lah yang digunakan
oleh produsen untuk menggunakan konsep situasi pemakaian.
Situasi pembelian mempunyai pengaruh yang nyata terhadap keputusan
pembelian. Hal ini menunjukkan bahwa situasi pembelian mampu
menghadirkan keinginan konsumen untuk membeli karena situasi ini bisa
menjadi stimulus terhadap keputusan konsumen untuk membeli. Gaya hidup
pembelian juga mempunyai pengaruh yang nyata terhadap keputusan
pembelian konsumen atas sesuatu. Konsumen dengan gaya hidup berlebihan
ternyata juga mengikuti mode-mode pakaian khususnya, misalnya celana
jeans sehingga gaya hidup mereka berpengaruh terhadap keputusan
pembelian yang dilakukan. Situasi pembelian dan gaya hidup terhadap mode
bagi konsumen dengan gaya hidup believer ternyata cukup tinggi mampu
mempengaruhi keputusan pembelian konsumen.
Situasi tidak terduga dapat menjadi pemicu seseorang untuk membeli suatu
barang. Misalnya, seseorang ingin menulis tetapi pensil mekanik yg ia
punya ternyata tidak ada isi pensilnya, dengan keadaan yang seperti itu
maka keputusan yang ia pilih adalah dengan membeli isi pensil mekaniknya
dan melanjutkan tulisannya.
Contoh Kasus dari pengaruh kebudayaan terhadap pembelian konsumen :
dulu orang menggunakan handphone hanya untuk menelpon. Tidak lama
kemudian, trend ini berubah menjadi komunikasi dengan SMS, bahkan
sekarang, orang lebih banyak menggunakan handphone untuk mengirimkan SMS
dibandingkan untuk telepon.
Kecenderungan ini terus berubah, dengan berkembangnya
Operating System pada handphone seperti PDA, orang kemudian
menggunakannya untuk alat kerja, semacam untuk menulis laporan, jurnal,
dan seterusnya.
Bahkan dengan berkembangnya 3G dan sebentar lagi WIMAX dan 4G,
kecenderungan orang akan berubah, dari menelpon untuk mendengar suara,
menjadi telpon video atau video call.
Bahkan nantinya, orang akan melihat TV tidak melalui pesawat
TV, cukup melalui handphone. Hal ini belum termasuk kecenderungan orang
untuk menggunakan handphone sebagai alat untuk komunikasi data, seperti
mengakses Internet. Dengan terus berkembangnya trend ini dan didukung
teknologi 3G, 4G, wimax, dan populasi yang terus tinggi bahkan lebih 50%
peluang usaha di bidang ini semakin menarik.
Dengan terus berkembangnya cara orang untuk berkomunikasi dan
memanfaatkan handphone, maka bukanlah satu hal yang aneh jika terdapat
trend untuk berganti-ganti handphone.
Hal ini pun membuat konsumen selalu ingin memiliki handphone dengan
fasilitas tercanggih, namun terkait dari berbagai faktor terpenting
seperti pendapatan yang dimiliki maupun fungsinya, maka konsumen harus
kembali berpikir apakah akan benar-benar membelinya atau tidak.
Jika dilihat dari perilaku konsumen yang telah dianalisa diatas, didapat
kesimpulan bahwa konsumen mempunyai sifat yang selalu ingin mengikuti
perkembangan jaman yang membuat kebanyakan dari konsumen lebih peduli
akan trend atau gaya hidup dari pada kebutuhan. Intinya, kebutuhan dan
keinginan konsumen terhadap suatu barang di pengaruhi oleh keadaan
lingkungan di sekitarnya.
Sumber :
http://spidolbekas.wordpress.com/2014/01/18/pengaruh-situasi-pada-perilaku-konsumen/
http://laelatulafifah.blogspot.com/2013/12/pengaruh-keluarga-dan-rumah-tangga.html
http://rusliana202.blogspot.com/2013/10/pengaruh-individu.html
http://laelatulafifah.blogspot.com/2013/12/pengaruh-kelas-sosial-dan-status.html
https://h3r1y4d1.wordpress.com/2012/11/25/pengaruh-kebudayaan-terhadap-pembelian-dan-konsumen/
http://gillianstefanylondong.blogspot.com/2014/01/perilaku-konsumen-dan-contoh-kasus.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar