BAB II
LANDASAN TEORI
2.1
Pengertian Lingkungan Kerja
Menurut Nitisemito (2008:190)
lingkungan kerja adalah lingkungan disekitar pekerjaan yang berdampak pada
karyawan dalam menjalankan tugas – tugasnya. Sedangkan menurut Abdurahmat
Fathori (2006:4) lingkungan adalah keadaan luar yang mempengaruhi organisasi
baik lingkungan
kerja yang bersifat internal maupun lingkungan yang bersifat eksternal.
Dari pendapat tersebut maka dapat disimpulkan bahwa
lingkungan kerja merupakan tempat bekerja bagi karyawan setiap harinya.
Lingkungan kerja yang menyenangkan, aman, dan nyaman adalah impian semua
karyawan. Hal ini dikarenakan agar karyawan dapat melaksanakan tugas-tugasnya
dengan lancar sehingga menghasilkan pekerjaan yang baik, ada 2 fakor lingkungan
kerja yaitu :
1. Lingkungan kerja eksternal
2. Lingkungan kerja internal
2.1.1
Lingkungan Kerja Eksternal
Lingkungan eksternal adalah lingkungan yang meliputi variabel-variabel di
luar organisasi yang berupa tekanan umum dan tren dalam lingkungan kerja.
Variabel lingkungan eksternal ini terbagi menjadi dua yaitu ancaman dan
peluang.
Menurut Wibowo (2007:70)
lingkungan eksernal adalah komponen-komponen yang ada di luar organisasi atau
perusahaan. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja
karyawan dari lingkungan eksternal yaitu:
1.
Sektor Sosial Ekonomi
Setiap segi sosial ekonomi
dapat membantu atau menghambat upaya mencapai tujuan perusahaan dan menyebabkan
keberhasilan ataupun kegagalan strategi.
Adapun Faktor-faktor sosial ekonomi, yaitu:
a.
Masalah keluarga
b.
Masalah kesehatan
c.
Masalah finansial
d.
Perubahan-perubahan di sekitar tempat tinggal atau
tekanan social
e.
Kesempatan untuk pengembangan karier
f.
Masalah-masalah pribadi lainnya, dan lain-lain.
2.
Sektor Teknologi
Disamping sektor sosial
ekonomi, perubahan teknologi dapat memberi peluang besar untuk menigkatkan
hasil, tujuan, atau mengancam kedudukan perusahaan karena akan berinteraksi
secara langsung maupun tidak langsung terhadap karyawan.
3. Sektor Pemerintah
Falsafah pemerintah dalam
hubungannya dengan perusahaan
dapat berubah sewaktu-waktu. Sektor ini merupakan aspek penting
yang harus diperhatikan oleh perusahaan. Tindakan pemerintah dapat
memperbesar peluang atau hambatan usaha dan adakalanya keduanya
bersamaan. Selain mendorong dan membantu, pemerintah juga
menciptakan ancaman, ini berarti mempengaruhi kelangsungan hidup dan
keuntungan perusahaan. Dengan adanya peraturan pemerintah, maka akan berdampak
pada perusahaan dan akan berimbas pada kinerja.
4.
Pesaing
Pesaing merupakan ancaman
bagi kelangsungan hidup suatu perusahaan. Kondisi persaingan yang begitu ketat
akan mempengaruhi keadaan suatu perusahaan, dengan demikian kinerja karyawan
sangatlah penting dan dituntut untuk memberikan hasil kerja yang lebih baik
sehingga perusahaan dapat menghadapi kondisi yang seperti ini.
2.1.2
Lingkungan Kerja Internal
Menurut Sedarmayati (2009:31) lingkungan kerja fisik
adalah semua keadaan berbentuk fisik yang terdapat disekitar tempat kerja yang
dapat mempengaruhi karyawan baik secara langsung maupun secara tidak langsung.
Sedangkan lingkungan kerja non fisik adalah semua keadaan yang terjadi
berkaitan dengan hubungan rekan kerja, ataupun
hubungan dengan atasan.
Dari
pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa lingkungan kerja adalah segala
sesuatu yang ada di sekitar
karyawan yang dapat mempengaruhi dalam menyelesaikan tugas-tugas yang dibebankan. Namun
secara umum pengertian lingkungan kerja adalah merupakan lingkungan dimana para
karyawan tersebut melaksanakan tugas dan pekerjaannya. Lingkungan
Kerja terbagi menjadi dua
aspek yaitu :
A. Lingkungan Kerja Fisik
Lingkungan
kerja fisik adalah lingkungan
yang berhubungan dengan segala sarana dan prasarana yang mendukung dalam
pelaksaan tugas karyawan.
B. Lingkungan Kerja Non
Fisik
Lingkungan
kerja non fisik adalah lingkungan yang berhubungan dengan kondisi kerja antara
bawahan dan atasan, serta hubungan sesama
karyawan. Komunikasi yang baik sangat dibutuhkan
dalam sebuah organisasi, misalnya hubungan dengan sesama karyawan dan dengan pimpinannya. Dengan adanya suasana kerja dan komunikasi yang harmonis,
maka karyawan akan merasa betah di tempat kerja sehingga pekerjaan yang
dilakukan dapat terlaksanan dengan baik dan optimal.
Kedua jenis lingkungan kerja
diatas harus selalu diperhatikan oleh organisasi. Keduanya tidak bisa
dipisahkan begitu saja, terkadang organisasi hanya mengutamakan salah satu
jenis lingkungan kerja diatas, tetapi akan lebih baik lagi bila keduanya
diperhatikan secara maksimal. Dengan begitu semangat kerja karyawan bisa lebih
meningkat dan karyawan mampu menjalankan tugasnya dengan baik.
2.1.3 Pengertian Semangat
Kerja
Menurut Melayu
SP. Hasibuan (2010:76) mengemukakan bahwa semangat kerja adalah keinginan dan
kesungguhan seseorang mengerjakan pekerjaanya dengan baik serta berdisiplin
untuk mencapai produktifitas yang maksimal.
Semangat kerja akan merangsang seseorang untuk berkarya dan
berkreativitas dalam pekerjaan. Semangat kerja merupakan sikap
individu untuk melakukan pekerjaan dengan giat, bekerja sama, berdisiplin,
bertanggung jawab sehingga pekerjaan dapat dilaksanakan dengan lebih cepat dan
lebih baik, maka dapat dikatakan bahwa semangat kerja sangat berkaitan dengan
suasana atau keadaan dimana sikap dan perasaan dari seseorang atau kelompok
orang yang merasa terikat untuk melakukan pekejaannya.
Selain itu, menurut Alex S. Nitisemito (2010:68)
menyebutkan bahwa terdapat beberapa faktor yang harus diketahui oleh perusahaan
sebagai indikasi penurunan semangat kerja, yaitu :
a.
Turunnya/rendahnya
produktivitas
Salah satu indikasi turunnya semangat kerja adalah
turunnya produktivitas. Turunya produktivitas merupakan turunnya semangat
kerja.
b.
Tingkat absensi
yang naik/tinggi
Tingkat absensi yang tinggi juga merupakan salah satu
indikasi turunya semangat kerja karyawan. Pada umumnya bila semangat kerja
turun, mereka akan malas untuk datang setiap hari kerja.
c.
Labor turnover (tingkat
perpindahan buruh)
Bila dalam suatu perusahaan tingkat keluar-masuk karyawan
naik dari tingkat sebelumnya, hal ini merupakan indikasi turunnya semangat
kerja.
d.
Kegelisahan
dimana-mana
Kegelisahan akan terjadi bila semangat kerja turun,
kegelisahan dapat terwujud dalam bentuk ketidaksenangan bekerja, keluh kesah,
serta hal-hal lain.
Berikut adalah unsur-unsur yang
mempengaruhi semangat kerja :
Menurut Dressler (2007:167) Semangat kerja dapat
diukur melalui presensi pegawai di tempat kerja, disiplin kerja, tanggung
jawabnya terhadap pekerjaan, serta tingkat produktivitas kerja.
SUMBER :
Abdurrahmat Fathoni. 2006, Manajemen Sumber Daya
Manusia, Bandung: PT. Rineka Cipta.
Alex. S, Nitisemito. 2008, Manajemen
Personalia. Jakarta: Ghalia Indonesia.
Hasibuan, Melayu S.P. 2010, Organisasi dan Motivasi. Jakarta:
PT. Bumi Aksara.
Sedarmayanti. 2009,
Sumber
Daya Manusia dan Produktivitas Kerja. Bandung: Mandar Maju
Simamora Henry. 2014,
Manajemen Sumber Daya Manusia, Yogyakarta:
Bagian Penerbitan STIE YKPN.
Widodo. 2010, Pengaruh Lingkungan Kerja, Budaya
Organisasi, Kepemimpinan Terhadap Kinerja, Vol.3. Jurnal Among Markati